Kamis, 26 Juli 2012

Trend Lesbi Melanda Kalangan TKW Di Hong Kong

SEPASANG anak muda tampak berjalan mesra, mereka saling pegangan tangan menyusuri Leighton Road, Hong Kong. Mereka tak canggung memeluk temannya, layaknya sebagai orang pacaran, padahal mereka berdua wanita, yakni tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia. Sepintas penampilan kedua orang itu tidak seperti umumnya pembantu rumah tangga (PRT) di Indonesia yang identik dengan penampilan seadanya. PRT di Hong Kong bercelana jins model belel dan sobek-sobek di bagian lutut, dipadu baju kaus longgar tanpa lengan. Rambut pendek disemir pirang, dengan potongan asimetris khas harajuku, hidung dan bibir yang bertindik dan sedikit tato di pergelangan. Bila berpelukan di tempat umum mereka tak canggung, seolah tidak mau ketinggalan dengan kebiasaan remaja Hong Kong yang berpelukan dan bermesraan di pinggir jalan. Pemandangan yang sama juga terlihat di Victoria Park, Hong Kong, taman tersebut menjadi surga bagi orang yang sedang berpacaran. Pada Sabtu (2/5) malam, saat rombongan dari Yayasan Sosial Adjeng Suharno Foundation (YSASF) yang dipimpin DR. Hj. Adjeng Ratna Suminar, S.H.,M.M., berkunjung ke Victoria Park, sekitar pukul 20.00 waktu Hong Kong sudah banyak berkumpul TKW. Di antara mereka ada tiga sampai empat pasangan sedang bermesraan. Praktik hubungan sesama perempuan di kalangan TKW Indonesia di Hong Kong memang semakin memprihatinkan. Tentu saja kejadian itu membuat merinding orang yang melihatnya. "Mudah-mudahan mereka segera dibukakan pintu tobatnya agar tidak melakukan hal seperti itu lagi," kata Adjeng. Memang, cerita TKW yang terjerumus menjadi kaum lesbian itu sudah terjadi beberapa tahun lalu, namun saat ini kondisinya terus bertambah. "Kami sudah pacaran dua tahun," kata Neli, (26), seorang TKW asal Blitar, Jawa Timur. Sambil memeluk Lusi (28), seorang wanita bergaya laki yang disebutnya pacar itu. Ada banyak pasangan TKW lainnya yang tanpa malu mengaku berpacaran. Beberapa di antaranya bahkan disebut-sebut menikah. "Makin banyak aja mas..., bahkan ada perkumpulannya," kata Endang Pujianti (30), TKW asal Blitar saat ditanya mengenai TKW yang lesbi. Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong memang didominasi wanita. Data di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong menyebut jumlahnya mencapai 130.000 orang (2009), dengan mayoritas pekerjaan sebagai PRT. Dengan jumlah sebanyak itu, TKW Indonesia bisa saling berinteraksi karena mereka dapat jatah libur kerja sepekan sekali setiap hari Sabtu dan Minggu. Tidak sebanding Ferry Susantio pemilik Warung Candra di Leighton Road, Hong Kong dekat gedung KJRI Hong Kong menuturkan tren lesbian di kalangan TKW Indonesia di Hong Kong sudah bukan rahasia umum. Ferry menduga tren lesbian ini berawal dari ketika TKW berada di penampungan. Konon ada tenaga pengajar yang lesbi dan virus lesbi itu hinggap pada TKW. "Mandi bareng, tidur bareng selama di penampungan TKW, juga semakin menyuburkan hasrat sesama jenis. Dan ketika di Hong Kong yang kehidupannya bebas menjadi kesempatan bagi mereka untuk bercinta sesama jenis," kata Ferry. Faktor lainnya, karena jumlah TKW Indonesia di Hong Kong dengan tenaga kerja laki-laki tidak sebanding. TKW, ratusan ribu sementara laki-lakinya hanya 30 hingga 50 orang. Akibatnya mereka kehausan, bahkan konon bila ada kapal pesiar yang pegawainya orang Indonesia berlabuh di Hong Kong, para TKW ini berani membayar mereka untuk memenuhi hasrat biologisnya. "Hasrat biologis tinggi, namun tidak tersalurkan sehingga akhirnya berlaku menyimpang," katanya. Keprihatinan juga diungkapkan oleh Ketua YSASF, Adjeng saat melihat langsung praktik lesbi di Victoria Park. Menurut dia, perlu adanya penanganan segera agar mereka bisa kembali ke jalan yang benar. Dengan cara melakukan pendekatan dan penyadaran kepada mereka. Menurut Adjeng, bila dibiarkan akan semakin banyak TKW yang lesbi. "Praktik lesbi ini ibarat virus flu babi. Kalau dibiarkan, virus itu akan terus menjalar dan menyebar dari yang satu ke yang lainnya," ujarnya. Ketua majelis taklim pengajian di (KJRI) Hong Kong, Ani Fatuzzuhria mengakui banyak TKW yang lesbian. "Kami berupaya untuk menyadarkan mereka melalui pendekatan keagamaan seperti pengajian," kata Ani saat ditemui di gedung KJRI Hong Kong saat melakukan pengajian. Keadaan TKW menjadi lesbi, menurut Ani semakin memprihatinkan. "Di sebuah tempat yang namanya Taifo, kaum lesbian itu dinikahkan, ini kan jelas sangat menyimpang, makanya kami terus melakukan pendekatan secara agama agar mereka itu sadar," katanya. Ani mengaku tidak mengetahui persis berapa jumlah TKW yang lesbi karena mereka tertutup dan susah didata. Akan tetapi yang jelas, jumlahnya makin bertambah saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar